Seorang lelaki berjalan dan terus berjalan dengan langkah kakinya yang cepat seakan mengejar degup jantungya. Nafasnya pun terus memburu. Dia terus menunduk tanpa mempedulikan seberapa jauh kini dia melangkah. Berjalan dan terus berjalan itulah yang dilakukannya. Sepertinya hanya ada dia dan langkah kakinya di tengah keramaian kota.
Hingga sampai pada suatu titik dia berhenti dan tersadar akan semua yang telah dilakukannya, suatu kebodohan lagi. Seketika keletihan di kakinya datang. Suara bising ramai kota pun kembali terdengar. Dia pun berlari menuju ke titik awal langkahnya.
Gelisah. Tak seperti biasanya. Tak ada senyum. Mimpi pun tak bersedia tuk menyapa. Semuanya datar. Perasaan bersalah terus saja mencaci di depannya.
Dia coba menulis kalimat demi kalimat. Kalimat yang begitu sulit dia ucapkan karena menyerah pada lidah dan bibirnya yang membeku.
I'm so sorry.
I know this will not be enough for you.
I can’t think well at that time.
My emotion was controlling me.
That's my folly.
I'm really sorry for that.
I will learn from every mistake I did to you, to not repeat them.
Please, forgive me.