Sungguh aku bukan penulis. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi penulis. Aku tak tahu bagaimana mengabadikan segala apa yang ada didalam kepalaku dan sejarah hidupku yang telah dan baru saja kulewati menjadi sebuah tulisan yang indah yang bagi siapapun ketika membacanya akan menyukainya hingga mungkin ingin menyimpannya sebagai sesuatu yang berharga. Aku tak tahu cara memilih kata yang sempurna sehingga menjadikannya kalimat yang membentuk paragraf demi paragraf yang akhirnya menghasilkan sebuah tulisan yang utuh, indah, memiliki kalimat yang mungkin bisa kau kutip, memberikan motivasi bagimu, dan membuat siapapun yang membacanya akan merasa nyaman ketika membacanya.
Sudah beberapa kali aku mencoba untuk membuat tulisan yang menurutku akan disukai oleh yang membacanya. Mungkin ketika pertama, kedua, dan ketiga kali membacanya pembaca menyukainya. Tapi, seiring waktu berjalan tulisan itu dilupakan. Tanpa pernah tahu bagaimana dan apa yang terjadi ketika aku menulisnya. Tapi, mengeluh hanya akan membuang nafasku percuma yang mungkin bisa kugunakan untuk hal yang lebih penting. Iya kan? Mencoba dan terus mencoba. Itu saja yang bisa kulakukan. Semangat!
Kepada kalian sang Penulis aku bertanya, salahkah aku bila mengharapkan yang akan membaca tulisanku akan menyukainya ketika aku membuat suatu tulisan? Apakah aku salah jika merasa kecewa ketika tulisanku ternyata tidak seperti harapanku? Tapi, kau tidak akan bisa melihat indahnya pelangi sebelum merasakan hujan kan? Yup, I think it is true.
Pernah suatu kali aku mencoba menulis sesuatu dengan penggambaran, bukan dengan menyebutkan apa yang sebenarnya kumaksud. Namun apa yang terjadi? Ada yang begitu mudah memahaminya tanpa harus membacanya hingga selesai dan ada juga yang bahkan sulit memahaminya walaupun telah beberapa kali membacanya. Aku hanya bisa merasa sedikit senang dan juga merasakan suatu rasa yang disebut kecewa secara bersamaan. Kata yang tak tahu siapa yang memakainya pertama kali dan kapan pertama kali orang itu menggunakannya. Mungkin ia ingin memplesetkan kata “kecela” yang berarti mendapat atau terkena celaan menjadi “kecewa” karena tidak secara langsung dicela namun memilik rasa yang hampir sama ketika dicela.
Aku tak tahu apakah ini bentuk kejujuran atau hanya salah satu bentuk kebodohanku. Ketika kata ‘cinta’ terlintas didalam kepalaku, aku mungkin akan menggunakan kata ‘cinta’ juga pada apa yang kucoba tulis. Sulit bagiku untuk mengerti dan memahami apabila kugambarkan kata ‘cinta’ yang muncul itu kedalam kata merah, merah muda, putih atau apapun yang biasa kau gunakan untuk mengganti kata “cinta” itu. Itulah mungkin mengapa aku sulit untuk jadi romantis dalam berkata-kata karena pasti jatuhnya jadi lebay. Hehehe. Padahal niatnya hanya ingin berkata apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Oh iya, kutulis ini sambil mendengarkan Sheila On7 – Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki. Tapi aku lebih menyukai menyebut dalam hati judulnya adalah Anugerah Ter-Indah yang Kini Kumiliki. Sedang memeluk hatinya ketika memeluk tubuhnya itulah anugerah terindah yang sebenarnya.
Jangan menyebut ini tulisan. Sebutlah ini angin yang terpahat. Anggap saja saya sedang mengobrol dengan dirimu yang membaca ini. Ini hanya salah satu bentuk usaha yang kusebut mencoba. Kalau tidak pernah mencoba, bagaimana kita tahu akan berhasil kan? Siapa tahu di usahaku berikutnya aku akan dengan bangga menuliskan kalimat “aku adalah penulis”. Hehehehe….
“Sudah yah aku mau pulang dulu, mau lanjutkan membuat usahaku yang berikutnya dan yang sempat tertunda. Billahitaufik wal hidayah,wassalmualaikum wr.wb” (Jangan heran. Kan ceritanya lagi ngobrol. Hehehe :D)
:: Aditya “ditdot” Kusuma ::




1 komentar:
Awal yg Bagus kok...
Tidak ada penulis hebat tanpa melewati suatu masa2 sulit lebih dulu. SEMANGAT.
Semakin giat menulis, maka tulisan qt pun akan smakin bgus ^^
Posting Komentar